1.
MALARIA
1.1 apa itu malaria ?
“ malaria adalah
penyakit infeksi yang di sebabkan oleh protozoa, golongan plasmedium,di
tularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles.” (andi sarir, 2002 : 61.“ malaria
pada manusia disebababkan oleh empat spesies plasmedium yaitu vivaxyang
menimbulkan malaria vivax, pl.falciparum, pl. Malariae menimbulkan malariae dan
pl. Ovle yang menimbulkan malaria ovale, malaria vivax di sebut juga malaria
tertiana berigna (jinak), sedangkan malaria falciparum juga dikenl sebagai
malaria tertiana maligna (ganas).malaia mariae dan malaria ovale meupakan
malaria ang berbeda pula demam maupun gejala-gejala klinisnya dan malaria vivax
dan malar falciparum. (putra dawati,2000 : 150).“malaria disebabkan oleh
gigitan nyamuk yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit malaria ,adpun
gejala-gejala yang timbul akibat gigitan nyamuk,demam
tinggi,menggigil,,berkeringat dan sakit kepala.” (ni komang dewi ulandari)
1.2
penyebab malaria
penyebab malaria
yaitu adanya sumber infeksi, baik berupa penderitaan maupun karier
gametosit, adanya v\ektor penular yaitu
nyamuk Anopholes, dan terdapatnya manusia yang peka.” (putra darwati, 2012 :
151)
2.
gejala klinis malaria
setiap jenis malaria mempunyai masa inkubasi yang berbeda –
beda. Pada malaria falciparum masa
inkubasi berlangsung antara cara samapai 12 hari, sedangkan pada malaria
malariae antara 2 dan 40 hari, masa inkubasi pada malaria vivax dan malaria
ovale berlangsung antara 10 sampai 17 hari. Gejala – gejala klinis yang khas
{SIC!}, pada malaria adalah demam berrulang,splenumegali, dan anemia. Terdapat
tiga tahapan demam pada malaria yaitu stadium rigor (kedinginan) yang
berlangsung antara 20 menit sampai 1 jam, stadium panas badan yang berdiam di
daerah tersebut harus di obati dengan baik. Karier malaria harus di temukan dan
di obati dengan primakuin. Primakuin tidak boleh di gunakan secara masal karena mempunyai efek samping,untuk
memberantas nyamuk Anopheles yang menjadi vektor penular malaria di daerah
endemis digunakan inseksisida yang masih efektif memberantas vektor, serta
dilakukan pemusnahan secara teratur atas sarang – sarang nyamuk Anopheles yang
terdapat di daerah endemis. Gigitan nyamuk dapat di cegah dengan menggunakan
kelamb berinsiteksida pada waktu tidur, atau menggunakan repelen yang di
usapakan pada kulit badan.” (putra darwati, 2012 : 169)
2.1
pencegah
umum malaria
“Pencegah malaria secara umum meliputi 3 hal, yaitu edukasi,
komoprofilaksis,dan upaya menghindari gigitan nyamuk. Edukassi adalah faktor
terpenting pencegahan malaria yang harus diberikan kepada setia pelancong
{SIC!}, atau petugas yang akan bekerja di daerah endemis. Materi utama endukasi
adalah mengajarkan tentang cara penularan malaria, resiko terrkena malaria, dan
yang terrpenting pengenalan tentang gejala dan tanda malaria.” (agung mugroho,
2001 : 189)
2.2 obat malaria untuk komoprifilaksis
1.
klorokuin adalah obat anti malaria yang paling
luas digunakan sehingga efek samping dan data keamanannya, terutama untuk
penggu jangka panjang lebih dikenal dengan baik.
2.
Doksisiklin merupakan pilihan kemopropiklasis
bagi pasien yang tidak toleran dengan meflokuin didaerah resisten klorokuin.
3.
Frimakuin digunakan untuk tiga indikasi yaitu
sebagai prokpilasis primer, untuk mencegah timbulnya malaria selama atau segera
setelah perjalanan.(agung nugroho, 2001 : 190)
2.3
pencegahan malaria untuk kunjungan singkat
“belum ada kesepakatan jelas dalam hal definisi lamanya
unjungan singkat dan kunjungan jangka panjang yaitu, kurang dari 3 minggu,
lebih dari 3 minggu.” (agung nugroho,
2001 : 192)
2.4
pencegahan malaria untuk kunjungan jangka
panjang
“kunjungan panjang adalah lama kunjungan kedaerah endomis
malaria lebih dari 6 bulan.” (agung nugroho, 2001 : 192)
2.5 pencegahan pada wanita hamil
“ wanita hamil setidaknya menghindari berkunjung kedaerah
endemis malaria, dan wanita yag hamil sewaktu berada didaerah endemis
disarankan meninggalkan daerah eendemis {SIC!]. wanita hamil sangat beresiko
terkena malaria berat dengan morbiditas dan mortalitas tinggi baik ibu maupun
anaknya.” (agung nugroho, 2001 : 191)
3
penanganan gangguan pada fungsi organ
3.3
penangan pada malaria cerebal
“ penanganan pada malaria cerebal, 1. Memastikan diagnisis,
2. Mempertimbangkan diagnosis banding, 3. Resusitasi fungsi vital ( oksigenasi, temperatur,
tekanan darah, sirkulasi), 4. Hindarkan tilploglilamia atau gangguan
metabolisme lainnya, 5. Atasi kejang, 6. Koreksi syok dengan N. Saline,
7. Tidak memberikan obat – obatan yang tidak bermamfaat, 8. Tranfusi darah jika
< 15%, 9. Pemberian obat malaria secukupnya, 10. Pendarahan berikan vit K
dan transfusi darah, 11. Antibiotika jika ada taanda infeksi sekundeer, 12.
Dialisis terjadi gagal ginjal.” (andi marir, 2010 :256)
3.4
penanganan pada malaria gagal ginjal
1.
pastikan bukkan gagal ginjal, pra- renal jika ya
koreksi pemberian cairan {SIC!}.
2.
pastikan tidak ada penyakit ginjal sebelumnya
3.
ulangi pemeriksaan setelah 48 jam, jika
progresif atau ragu – ragu dianjurkan melakukan dialisis
4.
dialisis sendiri mungkin, khususnya jika terjadi
gagal multi- organ, hemodialisis atau hemofiltrasi lebih meenjadi pilihan
dibandingkan peritoneal diialisis
5.
pemberiaan depanime dan loop – diuretic masih
merupakan area yang kontroversi. (andi marir, 2\010 : 256 – 257)
3.5
penanganan terhadap malaria bilioa
1.
pastikan litorik merupakan manesfestasi malaria
berat, sebagai diagnosis banding hepatits karena tifoid, kolesistitis, abses
hati.
2.
Jika tersertai kegagalan organ lain, rasatimia,
manifestasi, pendaarahan, manisfestaasi serebral, hipoglikimia, menunjukkan
kemungkinan infeksi malaria berat.
3.
Berikan vit K
10 mg / hari selama 3 hari
4.
Pastikan kadar gula darah normal karena sering
terjadi hipoglikimia
5.
Pastikan tidak ada tanda DIC
6.
Pemberiaan anti malaria sama seperti pada
malaria berat yang lain . (andi marir, 2010 : 258)
3.6
penanganan malaria hiploglikemi
pemeriksaan kadar gula darah secara cepat
dengan glukometer pada setiap penderita malaria berat ( malaria serebral,
malaria dengan keamilan, malaria biliosa), jika kadar gula daarah kurang dari
40% ;
1.
beri 50 M, destrosa 40% IV dilanjutkan
2.
glukosa 10%
per infus 4 – 6 jam
3.
pemantauan gula darah tiap 4 – 6 jam, kadar gula
dapat turun beberapa kali
4.
jika perlu obat yang menekan produksi insulin,
seperti diazixide, glukagon aatau samastutun analogue {SIC!}
5.
heentikan pemakaian kina HCL jika memungkinkan
atau ganti dengan artesunate lartemeter.(andi marir, 2010 : 258)
3.7
penanganan malaria fever
blacwater fever adalah sindrom klinis yang
terdiri dari homolisis intravaskular, hemoglobinuria,dan gagal ginjal akut pada
pendrita malaria falciparum, terjadi pada penderita dengan pemakai kina yang
tidak teratur. Penanganannya:
1.
istirahat ditempat tidur, karena hemolisis
memudakan terjadinya gagal ginjal
2.
jika terjadi gagaal ginjal segeera dialisis
3.
hentikan obat yang menyebabkan hemolisis, kina, halopantrine,
mefloguine
4.
menghetikan muntah dan kesedekan dengan mengisap
es, sedatif atau tranglulier ( klorpromazin50 – 100mg 1M, diazepan 10mg 2*
sehari ). ( andi marir, 2010 : 258 – 259)
3.8
penangan malaria kardiovaskuler
1.
pemberian cairan infus untuk mengembalikan
volume darah ( 1C cairan yang mengandung dekstran atauplasma di berikan dalam 1
jam)
2.
jika belum ada perbaikkan tekanan darah dan
debar jantung,berikan lagi 1L cairan isotonis.
3.
Jika ada tanda sepsis atau syok septik, berikan
antibiotik yang adekuat, seperti sofalosporin generasi 3.( andi marir,2010 :
261)SS